Maybank Bidik Pertumbuhan dari Perdagangan Domestik hingga Ekosistem QRIS

Kamis, 11 Juni 2026

110

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Ade Rangkoto, Head of Transaction Banking Maybank Indonesia, memaparkan perkembangan bisnis transaction banking dan peluang pembayaran digital dalam Program Maybank Journalist Fellowship 2026

JAKARTA — PT Bank Maybank Indonesia Tbk membidik pertumbuhan bisnis melalui penguatan perdagangan domestik, pengembangan ekosistem pembiayaan rantai pasok, serta digitalisasi sistem pembayaran di tengah perubahan lanskap perdagangan dan industri perbankan. Strategi tersebut disampaikan Head of Transaction Banking Maybank Indonesia, Ade Rangkoto, dalam kegiatan Maybank Journalist Fellowship yang berlangsung di Maybank Head Office Indonesia, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Ade, perubahan kondisi ekonomi dan dinamika perdagangan mendorong perbankan untuk mencari sumber pertumbuhan baru. Selain menjajaki kolaborasi dengan bank lain, Maybank juga memperkuat bisnis yang dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan, seperti perdagangan impor dan perdagangan domestik.

"Kita usahakan cari cara untuk kolaborasi dengan bank-bank lain. Pada saat yang sama, kita kembangkan yang memang masih bisa dikembangkan, seperti bisnis import dan domestic trade," ujar Ade.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan perbankan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pembiayaan perusahaan secara individual, melainkan pada keseluruhan ekosistem bisnis yang terlibat. Dalam pembiayaan rantai pasok (supply chain financing), misalnya, bank perlu memahami kondisi pemasok, distributor, principal, hingga perilaku pasar untuk mengantisipasi risiko pembiayaan.

Menurut Ade, risiko seperti gagal bayar maupun barang yang tidak terserap pasar dapat berdampak langsung terhadap kualitas pembiayaan bank. Karena itu, analisis pasar dan intelligence menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan bisnis.

Maybank memiliki tim yang terdiri dari fungsi penjualan, pengembangan produk, dan intelligence yang bertugas memantau berbagai indikator, seperti tren penjualan, pola pembayaran kepada principal, serta kondisi daya beli masyarakat di suatu wilayah. Melalui analisis tersebut, bank dapat mendeteksi potensi risiko lebih awal dan melakukan langkah mitigasi yang diperlukan.

Meski nilai bisnis pembiayaan rantai pasok (supply chain financing) tidak sebesar bisnis pembiayaan perdagangan (trade finance), Ade menilai pendekatan berbasis ekosistem memberikan peluang pertumbuhan yang lebih terukur. Dalam skema ini, bank tidak hanya membiayai satu perusahaan, tetapi juga mendukung aktivitas keuangan yang melibatkan pemasok, distributor, hingga mitra usaha lain yang berada dalam satu rantai bisnis.

Selain layanan pengelolaan transaksi dan pembiayaan perdagangan, Maybank juga mengembangkan bisnis securities services yang ditujukan bagi investor dan pengelola dana investasi. Layanan ini mencakup jasa kustodian, yakni penyimpanan dan administrasi aset investasi seperti saham dan obligasi, serta layanan escrow yang berfungsi sebagai rekening penampungan sementara dalam suatu transaksi.

Melalui layanan escrow, dana dari pembeli akan ditahan terlebih dahulu oleh bank hingga seluruh syarat transaksi terpenuhi. Setelah proses selesai, dana baru disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Skema ini umum digunakan dalam transaksi bernilai besar, seperti jual beli tanah, bangunan, maupun transaksi korporasi lainnya.

Ade mengatakan sebagian besar nasabah bisnis securities services berasal dari kalangan fund manager atau perusahaan pengelola investasi. Pendapatan layanan tersebut berasal dari biaya pengelolaan yang dihitung berdasarkan nilai aset investasi yang mereka kelola (asset under management/AUM). Semakin besar nilai aset yang dikelola, semakin besar pula potensi pendapatan yang diperoleh bank dari layanan tersebut.

Di sisi lain, Ade menilai digitalisasi sistem pembayaran akan menjadi gelombang pertumbuhan berikutnya bagi bisnis transaction banking. Untuk menangkap peluang tersebut, Maybank tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan switching pembayaran yang berperan dalam ekosistem transaksi digital nasional.

Menurutnya, perkembangan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah mengubah perilaku transaksi masyarakat secara signifikan. Saat ini, pembayaran digital tidak hanya digunakan di pusat perbelanjaan modern, tetapi juga oleh pelaku usaha mikro seperti pedagang kaki lima.

Dalam mekanisme transaksi QRIS, dana yang dibayarkan konsumen tidak langsung diterima oleh merchant. Dana terlebih dahulu diproses melalui penyelenggara jasa pembayaran (PJP), perusahaan switching, hingga proses settlement sebelum masuk ke rekening penerima.

Melihat proses tersebut, Maybank sedang mengembangkan skema yang memungkinkan merchant memperoleh dana hasil transaksi lebih cepat dibandingkan mekanisme settlement konvensional sehingga dapat membantu menjaga arus kas usaha.

"Nah, kita lagi buat ekosistem supaya cepat. Jadi merchant itu bisa menerima uangnya lebih cepat," kata Ade.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar QRIS yang lebih besar dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, penggunaan QRIS di Indonesia berkembang pesat karena menjangkau berbagai lapisan masyarakat dan jenis usaha.

Ade juga melihat peluang pengembangan pembayaran lintas negara (cross-border payment) yang memungkinkan masyarakat Indonesia melakukan transaksi menggunakan QRIS saat berada di luar negeri. Saat ini, sejumlah perusahaan switching pembayaran disebut tengah menjajaki kerja sama dengan mitra internasional untuk memperluas interoperabilitas sistem pembayaran digital.

Ia mencontohkan, ke depan jamaah umrah maupun haji berpotensi melakukan pembayaran langsung menggunakan QRIS saat berada di luar negeri tanpa harus bergantung pada uang tunai atau metode pembayaran lainnya.

"Saya pikir Indonesia jauh lebih besar market-nya dibanding negara-negara lain. Ke depannya akan ada lebih banyak konsolidasi dan proses yang lebih baik lagi," ujarnya.

Menurut Ade, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peran bank ke depan tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga sebagai pengelola ekosistem transaksi yang menghubungkan pelaku usaha, penyedia pembayaran, perusahaan teknologi finansial, hingga konsumen dalam satu sistem yang semakin terintegrasi.

Penulis : Tiara De Silvanita

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait