Pendiri Google Dikritik Netizen Usai Beli Kapal Mewah 7,2 Triliun
Sabtu, 28 Desember 2024
Pengunggah: Redaksi
Teknologi - Sergey Brin, salah satu pendiri Google, kembali menjadi buah bibir publik.
Kali ini bukan karena inovasi teknologi, melainkan karena keputusan beraninya membeli kapal pesiar mewah bernama Dragonfly.
Dengan harga fantastis USD 450 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun, kapal ini biasanya dimiliki oleh orang terkaya di dunia dengan kekayaan luar biasa para miliarder teknologi.
Sebagaimana diketahui, Dragonfly, memiliki panjang mencapai 142 meter lebih besar dari stadion sepak bola profesional yang dilengkapi fasilitas kelas dunia.
Tak hanya itu, Kapal ini memiliki empat dek luar, dua helipad, dan 12 kabin yang dirancang bak hotel bintang lima.
Fasilitas mewah lainnya meliputi kolam renang berlantai kaca, bioskop pribadi, spa, pusat olahraga air, ruang kantor, pusat kebugaran, dan ruang permainan.
Selain itu, kapal pesiar ini juga memecahkan rekor, tidak hanya dari segi ukuran tetapi juga teknologi yang digunakan.
“Dragonfly adalah kapal pesiar besar yang dapat berlayar secara efisien di mana saja di dunia, berkat Konsep Penggerak Hibrida Diesel-Listrik yang sangat efisien,” ujar Peter Lürssen, mitra pengelola Lürssen, perusahaan pembuat kapal tersebut.
Namun, kemegahan ini memicu kontroversi. Superyacht seperti Dragonfly dinilai merusak lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang tinggi, sementara hanya melayani segelintir orang superkaya.
Perdebatan juga memanas di media sosial, terutama di subreddit r/GenZ. Sebuah unggahan menyoroti bagaimana kapal pesiar mewah menjadi simbol ketimpangan sosial yang semakin nyata.
“Miliarder bukanlah orang biasa. Mereka tidak akan menyambut Anda di bunker, kapal pesiar, atau rumah mewah mereka saat dunia menghadapi krisis ekologi dan sosial,” tulis salah satu pengguna.
Pandangan ini didukung oleh netizen lain yang menyerukan aksi kolektif untuk memilih kebijakan yang mendukung masyarakat luas.
“Pilih politisi yang memperjuangkan perumahan terjangkau, pendidikan gratis, layanan kesehatan universal, dan regulasi industri. Kita harus berhenti memandang mereka sebagai role model kesuksesan,” tulisnya.
Kemunculan Dragonfly ini kembali mengingatkan masyarakat tentang jurang ketimpangan yang terus melebar, sekaligus memicu diskusi tentang tanggung jawab sosial para miliarder di tengah krisis global.
(Far/Tir)
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News - Secara resmi TikTok Shop kembali beroperasi melalui Tokopedia pada senin, (11/12/2023). Kali ini TikTok sa...
TechSenin, 11 Desember 2023
Teknologi - Maraknya praktik judi online di Indonesia mendorong para pemangku kebijakan untuk bertemu guna mencar...
TechSelasa, 03 Desember 2024
Teknologi - Sebagai CEO OpenAI Sam Altman dipecat dari posisinya tanpa alasan yang jelas. "Kepergian Altman di...
TechSabtu, 18 November 2023
Teknologi - Biasanya layar Handphone (HP) yang kita pakai terbuat dari bahan dasar kaca dan plastik dan hal itu t...
TechSenin, 08 Januari 2024
Teknologi - Seiring masifnya aktivitas online seperti aktif di sosial media, berkomunikasi, bahkan transaksi seca...
TechRabu, 23 Oktober 2024
Teknologi - Baru-baru ini dunia teknologi digital yang fokus membangun koneksi jaringan digemparkan oleh kehadira...
TechSelasa, 25 Juli 2023
Tech - Metode autentikasi tradisional seperti SMS OTP dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman digital...
TechRabu, 12 Februari 2025
Teknologi - Sejumlah perusahaan media besar di Kanada, termasuk CBC/Radio-Canada, Postmedia, Metroland, Toronto S...
TechSenin, 02 Desember 2024
Teknologi – Laporan dari Reuters pada 17 Mei, pihak berwenang AS mengonfirmasi bahwa telah menangkap dua warga ...
TechJumat, 24 Mei 2024
Teknologi - Jepang resmi meluncurkan matahari buatannya pada Jumat (1/12). Matahari buatan itu merupakan Reaktor ...
TechJumat, 08 Desember 2023