Triliunan Rupiah Kembali, Negeri Bernafas Lega
Sabtu, 25 Oktober 2025
Pengunggah: Redaksi
Di aula utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (20/10), suasana terasa berbeda. Di depan para pejabat tinggi negara lainnya, Presiden Prabowo Subianto berdiri menyaksikan secara langsung penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp13,25 triliun. Nominal itu menjadi penanda dari salah satu bentuk pemulihan keuangan negara terbesar dalam sejarah hukum di Indonesia.
Uang tersebut berasal dari perkara korupsi pemberian fasilitas ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya pada tahun 2022. Perkara yang mengguncang sektor strategis ekspor Indonesia itu kini memasuki babak baru: pemulihan dan pengembalian.
Dalam proses penyerahan uang pengganti kerugian negara ini Presiden Prabowo tidak sendiri, ia bersama dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang secara simbolis menerima uang tersebut dari Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk disetorkan ke kas negara.
Kasus ini menjerat tiga perusahaan besar di industri kelapa sawit yang mendapatkan fasilitas ekspor di tengah kelangkaan minyak goreng dalam negeri. Dari hasil penyidikan Kejaksaan Agung, ditemukan adanya penyalahgunaan izin ekspor yang merugikan perekonomian negara hingga Rp17 triliun. Dari jumlah itu, Rp13 triliun berhasil dikembalikan ke kas negara. Berikut rinciannya:
- Wilmar Group: Rp11,9 triliun
- Musim Mas Group: Rp1,2 triliun
- Permata Hijau Group: Rp186 miliar
Sisanya, sekitar Rp4,4 triliun masih dalam proses penjaminan melalui aset perusahaan yang telah disita negara.
“Ini bukti nyata pemulihan aset dalam perkara korupsi bisa dilakukan secara profesional dan transparan,” ucap Jaksa Agung ST Burhanuddin pada Senin (20/10) di Gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengajak masyarakat untuk melihat proses pengembalian dana ini bukan sekadar nominal besar, melainkan peluang untuk bisa memperbaiki kehidupan rakyat kecil.
“Bayangkan, dengan Rp13 triliun, berapa banyak anak bisa kembali belajar di ruang kelas yang layak. Berapa banyak nelayan bisa melaut dengan perahu yang lebih aman,” ucap Prabowo dengan nada tegas pada Senin (20/10) di Gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia menggambarkan bahwa dana Rp13 triliun itu bisa untuk membangun sekitar 600 kampung nelayan modern dengan nilai proyek Rp22 miliar/kampung, memperbaiki lebih dari 8.000 sekolah dasar dan menengah di daerah tertinggal serta dapat menambah subsidi pupuk dan program ketahanan pangan nasional yang saat ini tengah digencarkan pemerintah.
Momentum ini bukan tentang pemulihan uang negara semata, tetapi juga tentang pemulihan kepercayaan publik. Di tengah skeptisisme masyarakat terhadap penegakan hukum, transparansi penyerahan dana ini menjadi sinyal bahwa negara mampu memberikan tindakan kepada perusahaan besar tanpa pandang bulu.
Menteri Keuangan Purbaya menegaskan seluruh dana akan masuk ke rekening kas umum negara serta diarahkan untuk program pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi daerah.
“Kami ingin dana ini terasa nyata di kehidupan rakyat, bukan hanya di laporan anggaran,” kata Purbaya pada Senin (20/10) di Gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Bagi sebagian orang, Rp13 triliun mungkin hanyalah angka di atas kertas. Namun, jika dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari, dana tersebut setara dengan anggaran 3 tahun pendidikan dasar di 10 provinsi, dapat mendanai pembangunan lebih dari 100 rumah sakit pratama atau memberikan subsidi pupuk bagi 7 juta petani selama satu musim tanam.
Di tengah tantangan ekonomi secara global, pengembalian dana sebesar ini menjadi “angin segar” bagi kas negara. Terlebih saat dilakukan di hadapan kepala negara, pesan moralnya jelas: korupsi di sektor strategis tidak lagi bisa dianggap remeh. Peristiwa ini dapat menjadi tonggak baru dalam perjalanan hukum dan tata kelola ekonomi Indonesia.
Ketika dana hasil korupsi kembali ke rakyat, bukan hanya neraca negara yang pulih - tapi juga rasa percaya bahwa keadilan masih mungkin untuk ditegakkan. Nominal Rp13 triliun yang sempat tersesat kini menemukan jalan pulang. Dan di tengah ruangan megah Kejaksaan Agung itu, publik seolah melihat secercah harapan: uang yang kembali bisa berarti masa depan yang diperbaiki.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Finance - Sebagai generasi yang tentu memiliki peluang besar menghadapi Bonus Demografi, nyatanya tak selamanya m...
FinanceMinggu, 07 Januari 2024
Finance - Ketika mendengar nama deretan 10 nama orang terkaya di dunia, pasti kita langsung disuguhkan dengan seb...
FinanceSabtu, 30 September 2023
JAKARTA — PT Bank Maybank Indonesia Tbk membidik pertumbuhan bisnis melalui penguatan perdagangan domestik, pen...
FinanceKamis, 11 Juni 2026
Pernyataan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, kembali memantik diskusi publik mengenai kesenjangan p...
FinanceJumat, 27 Maret 2026
Finance - Sobat youtz, apa yang akan kamu lakukan kalau punya harta kekayaan sebanyak 20 Triliun? Check out keran...
FinanceMinggu, 22 September 2024
Finance - Mantan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan mendapatkan uang pensiunan yang cuku...
FinanceJumat, 08 November 2024
Finance - Ternyata setelah lulus dari bangku sekolah, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi...
FinanceSelasa, 25 Juli 2023
Finance - Selain Shopee, Tokopedia apa e-commerce yang pernah kamu kunjungi, dan pernah merasa djavu ngga...
FinanceSenin, 24 Juli 2023
Finance - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir kembali merombak jajaran komisaris dan direksi PT ...
FinanceRabu, 18 Desember 2024
Finance - Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan izin impor daging sapi dan kerbau sebanyak 117 rib...
FinanceRabu, 12 Februari 2025