Perubahan Struktur Pasar dan Turunnya Kepercayaan Jadi Tekanan Baru bagi Rupiah

Kamis, 11 Juni 2026

95

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
I Made Budhi P. Artha, Head Global Market Maybank Indonesia, memaparkan dinamika rupiah, pasar valuta asing, dan kondisi ekonomi domestik dalam Program Maybank Journalists Fellowship 2026 di

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik, arah suku bunga Amerika Serikat (AS), atau kondisi ekonomi global. Perubahan struktur pasar valuta asing (valas) domestik serta melemahnya kepercayaan pelaku ekonomi dinilai menjadi faktor yang semakin memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Head Global Market Maybank Indonesia, I Made Budhi P. Artha, mengatakan dinamika pasar valas Indonesia telah mengalami perubahan signifikan yang membuat pasokan dolar di pasar menjadi lebih terbatas dibanding sebelumnya.

"Struktur pasarnya sendiri sudah berubah," ujar Made dalam Program Maybank Journalists Fellowship (MJF) 2026 di Maybank Head Office Indonesia, Jakarta, Kamis (11/06/2026).

Menurut Made, kondisi tersebut dapat diibaratkan seperti pasar yang sebelumnya memiliki 100 unit barang untuk memenuhi kebutuhan 100 pembeli, namun kemudian pasokannya berkurang menjadi hanya 75 unit. Dalam situasi demikian, harga cenderung naik karena ketersediaan barang semakin terbatas.

Dalam konteks pasar valas, berkurangnya pasokan dolar memicu ekspektasi bahwa nilai tukar dolar AS akan terus menguat. Ekspektasi tersebut kemudian memengaruhi perilaku para pelaku pasar.

Eksportir, misalnya, tidak lagi terburu-buru menjual dolar hasil ekspor mereka ke pasar. Sebagian memilih mempertahankan kepemilikan dolar dan memperoleh kebutuhan likuiditas rupiah melalui fasilitas perbankan atau transaksi sell-buy, yakni menjual dolar dengan kesepakatan membeli kembali pada waktu tertentu dengan harga yang telah ditetapkan.

Fenomena serupa juga terjadi di kalangan perbankan yang memiliki likuiditas dolar dalam jumlah besar. Menurut Made, sejumlah bank memilih mempertahankan posisi dolar mereka sehingga semakin sedikit pelaku yang aktif melepas dolar ke pasar.

Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar menjadi lebih besar karena permintaan dolar tetap tinggi sementara pasokan yang tersedia semakin terbatas.

"Kalau semua orang berpikiran dolar akan naik, maka perilaku pasarnya ikut berubah," katanya.

Selain faktor struktural, Made menilai sentimen dan tingkat kepercayaan atau confidence juga memegang peran penting dalam menentukan arah pergerakan pasar keuangan Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa investor asing pada dasarnya akan selalu membandingkan potensi keuntungan dengan risiko sebelum menempatkan dana mereka di suatu negara. Menurutnya, rupiah dan obligasi pemerintah Indonesia saat ini sebenarnya berada pada level valuasi yang relatif menarik jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.

Namun, investor belum sepenuhnya yakin untuk kembali masuk karena masih menunggu kepastian mengenai stabilitas nilai tukar dan kondisi ekonomi domestik.

"Mereka adalah economic entity. Pada akhirnya mereka akan menghitung risiko dan return. Kalau mereka melihat risikonya masih tinggi, mereka akan menunggu," ujarnya.

Made bahkan menilai persoalan kepercayaan tidak hanya datang dari investor global, tetapi juga dari pelaku ekonomi di dalam negeri. Ketika masyarakat dan pelaku usaha lebih memilih menyimpan dolar dibandingkan rupiah, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal negatif bagi investor asing.

"Kalau kita sendiri tidak percaya diri, apalagi yang di luar," katanya.

Menurut Made, salah satu hal yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa nilai tukar rupiah dapat bergerak lebih stabil dalam jangka menengah. Stabilitas tersebut akan membantu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan minat investor terhadap aset-aset Indonesia.

Di sisi lain, Made melihat perlambatan ekonomi domestik mulai terlihat dari sektor konsumsi masyarakat. Salah satu indikator yang ia soroti adalah penurunan pembelian kendaraan bermotor dan mobil.

Menurutnya, keputusan masyarakat untuk membeli kendaraan melalui kredit sering kali mencerminkan tingkat keyakinan mereka terhadap kondisi ekonomi dan prospek pendapatan di masa depan.

"Kalau orang percaya pendapatannya akan tetap ada, tidak khawatir kehilangan pekerjaan, biasanya dia berani membeli motor atau mobil. Itu leading indicator ekonomi," ujarnya.

Ketika konsumsi melemah, aktivitas ekonomi ikut melambat karena berkurangnya perputaran uang di masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor ritel, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor lain melalui efek berganda atau multiplier effect.

Dalam menghadapi potensi perlambatan tersebut, perbankan mulai melakukan berbagai langkah mitigasi risiko. Made mengatakan bank umumnya melakukan evaluasi terhadap portofolio kredit untuk mengidentifikasi nasabah yang berpotensi mengalami tekanan keuangan.

Pendekatan yang dilakukan tidak menunggu hingga debitur mengalami gagal bayar, melainkan melalui pendampingan dan penyesuaian skema pembiayaan sejak dini apabila diperlukan.

Selain itu, bank juga melakukan stress test terhadap portofolionya dengan menggunakan berbagai skenario ekonomi, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, perubahan suku bunga, hingga kondisi pertumbuhan ekonomi.

Hasil simulasi tersebut digunakan untuk mengukur ketahanan portofolio bank dan mengantisipasi potensi risiko yang mungkin muncul apabila kondisi ekonomi memburuk.

Meski demikian, Made menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi selama kepercayaan pasar dapat dipertahankan. Menurutnya, selain kebijakan moneter dan fiskal, faktor psikologis pasar kini menjadi variabel yang tidak kalah penting dalam menentukan arah pergerakan ekonomi dan nilai tukar rupiah ke depan.

Penulis : Tiara De Silvanita

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait