Bayu Imaduddin Kembangkan Cara Baru Tangkap Karbon Pakai Cahaya Matahari

Selasa, 01 Juli 2025

1610

Pengunggah: Anna Lutfhiah

gambar-utama
Foto: bayu Imaduddin (tempo).

Tech — Bayu Imaduddin Zulkifli Ahmad, pemuda 27 tahun asal Bekasi, sedang menulis ulang cara dunia menangani krisis iklim. Mahasiswa pascasarjana di Cornell University ini kini jadi peneliti utama dalam studi teknologi penangkapan karbon generasi baru yang terinspirasi langsung dari cara kerja tumbuhan.

Bayu saat ini menginjak tahun keempat dari program doktoralnya yang berdurasi lima tahun, dengan fokus riset pada kimia organik dan lingkungan. Ia pertama kali bergabung dalam proyek Carbon Capture and Storage (CCS) pada tahun 2022—meski awalnya sama sekali tidak tertarik.

“Aku awalnya skeptis,” kata Bayu. “Karena teknologi CCS konvensional masih pakai energi dari fosil, yang ironisnya malah menghasilkan karbon lagi.” Dari situlah muncul idenya: kenapa tidak meniru tumbuhan saja?

Bayu mengusulkan pendekatan yang lebih alami—mengadopsi mekanisme fotosintesis. Dalam proses itu, tumbuhan menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengubahnya menjadi energi melalui bantuan sinar matahari. Dari situlah Bayu dan timnya mulai bereksperimen.

Mereka menciptakan metode inovatif agar molekul enol menjadi lebih reaktif terhadap karbon dioksida, serta mengembangkan sistem yang bisa melepaskan karbon dengan mudah untuk penyimpanan jangka panjang. Teknologi ini, kata Bayu, memang belum bisa dibandingkan langsung dengan CCS konvensional yang telah dikembangkan selama puluhan tahun, namun punya keunggulan utama: energi utamanya dari sinar matahari.

"Fokus ke depan adalah menciptakan senyawa dan reaksi kimia yang bisa memanen cahaya matahari lebih efisien," tegasnya.

Dari laboratorium di Amerika, Bayu menanam benih harapan—bahwa krisis iklim bisa dilawan dengan ilmu, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk berpikir beda.

 

(Ann/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait