Di Tengah Ribuan Sekolah Nyaris Roboh, Arah Prioritas Belanja Negara Jadi Sorotan
Selasa, 14 Juli 2026
Pengunggah: Redaksi
PDi berbagai daerah di Indonesia, pemandangan yang kontras semakin mudah ditemui. Di satu sisi, bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berdiri megah sebagai bagian dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di sisi lain, tidak sedikit sekolah yang masih harus menjalankan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas dengan atap bocor, dinding retak, lantai rusak, hingga bangunan yang terancam roboh.
Kontras tersebut memunculkan perdebatan mengenai arah prioritas belanja negara. Di tengah besarnya komitmen pemerintah memperluas MBG, banyak kalangan mempertanyakan mengapa persoalan mendasar di sektor pendidikan, khususnya infrastruktur sekolah, belum mendapatkan perhatian yang sama.
Data Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan sekitar 49,5 persen ruang kelas sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara 10,8% lainnya rusak berat. Kondisi serupa juga terjadi di jenjang SMP, dengan tingkat kerusakan mencapai 42,7 persen%, sedangkan sekitar sepertiga ruang kelas SMA dan SMK juga masih memerlukan perbaikan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi kualitas pendidikan nasional. Sebab, proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kurikulum dan kualitas tenaga pendidik, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang aman dan layak bagi peserta didik.
Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp228 triliun untuk Program MBG pada 2026. Angka itu bahkan diusulkan meningkat menjadi Rp270 triliun pada 2027.
Sementara itu, estimasi kebutuhan anggaran untuk memperbaiki seluruh ruang kelas rusak di Indonesia diperkirakan berada pada kisaran Rp40,7 triliun hingga Rp96,5 triliun. Dengan kata lain, bahkan pada skenario biaya tertinggi, kebutuhan renovasi sekolah masih berada jauh di bawah alokasi anggaran MBG tahun ini.
Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas prioritas anggaran pemerintah. Sejumlah pengamat menilai pembangunan manusia tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada tersedianya fasilitas pendidikan yang memadai.
Selain besarnya anggaran, efektivitas Program MBG juga masih menjadi perhatian. Hingga kini belum tersedia evaluasi independen yang secara komprehensif mengukur dampak program terhadap perbaikan status gizi, peningkatan kualitas pendidikan, maupun kesejahteraan keluarga penerima manfaat.
Studi CELIOS pada 2025 juga menemukan adanya indikasi inclusion error dalam pelaksanaan MBG. Sekitar 34,2% penerima manfaat disebut berasal dari kelompok yang sebenarnya tidak termasuk prioritas, seperti keluarga mampu di luar wilayah 3T maupun daerah dengan prevalensi stunting tinggi.
Temuan tersebut memunculkan usulan agar program lebih difokuskan kepada kelompok rentan, seperti keluarga miskin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta masyarakat di wilayah tertinggal dan daerah dengan angka stunting tinggi. Pendekatan yang lebih terarah dinilai dapat meningkatkan efisiensi anggaran tanpa mengurangi tujuan utama program.
Di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas, transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara menjadi tuntutan publik. Terlebih, menurut Badan Gizi Nasional, sebagian pembiayaan MBG berasal dari realokasi anggaran sektor pendidikan dan kesehatan, sementara realisasi anggarannya telah mencapai 44 % per 15 Juni 2026.
Situasi ini memperkuat dorongan agar pemerintah melakukan audit dan evaluasi independen terhadap pelaksanaan MBG sebelum memperluas cakupan program. Bersamaan dengan itu, percepatan rehabilitasi sekolah dinilai perlu ditempatkan sebagai agenda prioritas agar seluruh anak Indonesia dapat belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak.
Pada akhirnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh kecukupan gizi, tetapi juga oleh kualitas lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Di tengah ribuan sekolah yang masih membutuhkan perbaikan, arah prioritas belanja negara pun kembali menjadi sorotan publik.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News – Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mendesak Uni Eropa untuk stop dulu urusan dagang dengan Israel....
NewsJumat, 01 Agustus 2025
News - Alfiansyah yang lebih dikenal sebagai Komeng, telah mengumumkan dirinya sebagai calon anggota Dewan Perwak...
NewsKamis, 15 Februari 2024
News — Pemerintah Provinsi Aceh secara resmi mengirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaika...
NewsSenin, 30 Juni 2025
News – Nama grup band D’Masiv kini resmi diabadikan sebagai bagian dari halte TransJakarta. Halte yang sebelu...
NewsSelasa, 04 Maret 2025
News - Mahkamah Agung (MA) memerintahkan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara (Jakut) melaporkan insiden ke...
NewsSenin, 10 Februari 2025
Seorang perempuan muda asal Bandung, Rifa Rahnabila, dituntut hukuman satu tahun penjara oleh jaksa penuntut umum...
NewsRabu, 21 Januari 2026
News - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang berencana membekukan ban...
NewsSelasa, 18 Februari 2025
Jakarta – Festival Jalur Langit kembali menjadi perhatian, khususnya bagi generasi muda yang mendambakan keseim...
NewsSenin, 18 November 2024
News - Pulau Lombok masih menjadi salah satu pulau yang terus melestarikan tradisi dan budaya untuk terus diopti...
NewsKamis, 15 Agustus 2024
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperbaiki ku...
NewsSelasa, 12 Mei 2026