Dari Piring ke Pakan Ternak, Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Jadi Bahan Evaluasi

Sabtu, 20 Juni 2026

50

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan karena persoalan kualitas makanan, melainkan distribusi yang tidak tepat sasaran. Ratusan porsi makanan bergizi di SDN Caringin 1, Kabupaten Pandeglang, Banten, justru berakhir menjadi pakan ternak setelah tidak terserap oleh para penerima manfaat.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah program nasional tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran dan produksi makanan, tetapi juga bergantung pada ketepatan perencanaan distribusi serta kondisi riil di lapangan.

Di SDN Caringin 1, program MBG sejatinya diperuntukkan bagi 262 siswa, 13 guru, dan seorang penjaga sekolah. Namun, menjelang berakhirnya semester, tingkat kehadiran siswa menurun drastis hingga hanya sekitar separuh dari total peserta didik yang datang ke sekolah. Akibatnya, ratusan porsi makanan yang telah dipersiapkan tidak tersalurkan.

Pihak sekolah mengaku telah berupaya menghubungi siswa yang tidak hadir melalui grup komunikasi agar datang mengambil jatah makanan mereka. Namun, ajakan tersebut tidak mendapat respons sehingga makanan yang telah diproduksi berisiko terbuang sia-sia.

Untuk menghindari pemborosan, sekolah akhirnya membagikan sisa makanan kepada warga yang memiliki ternak seperti ayam dan bebek. Keputusan tersebut dinilai sebagai solusi paling realistis mengingat makanan tidak dapat disimpan dalam waktu lama, sementara wadah makan atau ompreng harus segera dikembalikan dalam kondisi bersih untuk digunakan kembali.

Meski langkah tersebut berhasil mencegah makanan menjadi sampah, kondisi ini tetap menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme distribusi MBG. Program yang dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah justru kehilangan manfaat utamanya ketika produksi makanan tidak disesuaikan dengan jumlah penerima yang benar-benar hadir.

Persoalan lain yang turut mencuat adalah kejenuhan siswa terhadap menu yang disajikan. Menurut pihak sekolah, sebagian siswa mulai merasa bosan karena variasi makanan dinilai kurang beragam. Jika kondisi ini terus berlanjut, minat siswa terhadap program MBG dikhawatirkan akan semakin menurun sehingga tujuan meningkatkan asupan gizi tidak tercapai secara optimal.

Kasus di Pandeglang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai insiden lokal, melainkan menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan program MBG secara nasional. Perlu adanya sistem pendataan kehadiran yang lebih adaptif sehingga jumlah makanan yang diproduksi dapat menyesuaikan kebutuhan harian, terutama pada masa-masa tertentu seperti menjelang libur sekolah atau akhir semester ketika tingkat kehadiran cenderung menurun.

Di sisi lain, evaluasi terhadap variasi menu juga menjadi penting. Selain memenuhi standar gizi, makanan yang disajikan perlu mempertimbangkan preferensi anak agar tetap menarik dan tidak menimbulkan kejenuhan. Dengan demikian, program MBG tidak hanya berhasil menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memastikan makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh sasaran yang dituju.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa keberhasilan program publik tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang diproduksi, melainkan dari seberapa efektif manfaatnya benar-benar diterima masyarakat. Ketika ratusan porsi makanan bergizi berakhir menjadi pakan ternak, yang perlu dievaluasi bukan sekadar nasib makanannya, tetapi juga sistem yang mengantarkannya dari dapur hingga ke piring para siswa.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait