Bahaya! Donald Trump Bakal Stop Bantuan Medis untuk Negara Miskin di Dunia
Kamis, 30 Januari 2025
Pengunggah: Anna Lutfhiah
News - Presiden Amerika Serikat yang baru dilantik, Donald Trump, mengambil kebijakan kontroversial dengan menghentikan pasokan obat-obatan esensial yang selama ini menyelamatkan nyawa pasien HIV, malaria, dan tuberkulosis.
Kebijakan ini juga berdampak pada distribusi perlengkapan medis untuk bayi baru lahir di negara-negara yang selama ini menerima dukungan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).
Kontraktor dan mitra USAID mulai menerima instruksi resmi untuk menghentikan pengiriman bantuan tersebut.
Keputusan ini merupakan bagian dari kebijakan pembekuan pendanaan AS yang lebih luas sejak Trump kembali menjabat pada 20 Januari.
Salah satu pihak yang menerima memo penghentian adalah Chemonics, firma konsultan besar AS yang bekerja sama dengan USAID dalam penyediaan obat-obatan global.
"Memo ini mencakup penghentian distribusi obat untuk HIV, malaria, dan tuberkulosis, serta kontrasepsi dan perlengkapan kesehatan ibu dan anak," ungkap seorang sumber USAID dan mantan pejabat badan tersebut kepada Reuters.
Menanggapi hal tersebut, Atul Gawande, mantan kepala kesehatan global di USAID, menyebut kebijakan ini sebagai bencana besar.
"Bantuan obat-obatan selama ini menyelamatkan 20 juta orang yang hidup dengan HIV. Kini, bantuan itu terhenti sepenuhnya," tuturnya.
Sebagaimana diketahui, penghentian pasokan obat berisiko meningkatkan angka kesakitan dan kematian, terutama bagi pasien HIV yang sangat bergantung pada terapi antiretroviral.
Tanpa pengobatan, jumlah virus dalam tubuh pasien bisa meningkat secara drastis, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.
Bahkan, sekitar satu dari tiga ibu hamil yang tidak diobati dapat menularkan virus kepada bayinya.
Selain itu, terputusnya akses terhadap pengobatan dapat memicu kemunculan strain virus yang kebal obat, yang berpotensi menyebar ke seluruh dunia.
Sebuah studi memperkirakan bahwa penghentian program ini bisa menyebabkan kehilangan 600.000 nyawa dalam satu dekade ke depan di Afrika Selatan.
Jirair Ratevosian, mantan kepala staf PEPFAR di era pemerintahan Joe Biden, menyebut kebijakan ini sebagai efek domino berbahaya yang membuat jutaan nyawa berada dalam ketidakpastian.
"Keputusan ini menempatkan nyawa banyak orang di ujung tanduk dan bisa berdampak luas secara global," tutupnya.
(Ann/Far)
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dug...
NewsKamis, 23 November 2023
News – Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, menegaskan bahwa jam kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayahny...
NewsJumat, 07 Maret 2025
Pemerintah pusat memberikan angin segar untuk daerah yang berhasil menurunkan angka stunting. Melalui Keputusan M...
NewsMinggu, 16 November 2025
Satu tahun sudah pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka berjalan. Di tengah janji besar untuk m...
NewsRabu, 22 Oktober 2025
Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan kembali memb...
NewsSelasa, 20 Januari 2026
News - Tim Resmob Direktorat Reskrimum (Ditreskrimum) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menangkap seorang guru bern...
NewsMinggu, 05 Januari 2025
News - Prabowo Subianto, presiden terpilih Indonesia, tengah menyiapkan program pemeriksaan kesehatan gratis deng...
NewsJumat, 27 September 2024
News – Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mendesak Uni Eropa untuk stop dulu urusan dagang dengan Israel....
NewsJumat, 01 Agustus 2025
News – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi memecat Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dan Bobb...
NewsSenin, 16 Desember 2024
Sebuah unggahan sederhana di media sosial kembali menjadi pengingat bahwa ruang digital bukanlah ruang privat tan...
NewsMinggu, 22 Maret 2026