Indonesia jadi Negara Ke-5 Kasus Diabetes Tertinggi di Dunia

Minggu, 16 November 2025

1965

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber: www.images.paxels.com

Penyakit diabetes mellitus menjadi salah satu penyakit dengan prevalensi yang cukup besar dan terus meningkat di Indonesia, sehingga menjadikannya masalah kesehatan yang sangat mengkhawatirkan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi sebesar 11,7% untuk penduduk usia di atas 15 tahun, meningkat dari angka 10,9% pada Riskesdas 2018. Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pertambahan usia, urbanisasi, perubahan pola makan, dan gaya hidup yang kurang aktif.

Karena prevalensinya yang cukup tinggi, kini Indonesia menempati peringkat ke-5 sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Data dari International Diabetes Federation (IDF) 2021 mencatat, ada sekitar 19,5 juta orang dewasa di Indonesia yang mengidap diabetes.

Berikut adalah 5 negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia :

  • China (140,9 juta orang)
  • India (74,2 juta orang)
  • Pakistan (33 juta orang)
  • Amerika Serikat (32,2 juta orang)
  • Indonesia (19,5 juta orang)

IDF Diabetes Atlas edisi ke‑11 juga mencatat, sekitar 1 dari 9 orang dewasa usia 20-79 tahun di seluruh dunia atau sekitar 589 juta orang hidup dengan diabetes pada tahun 2024 dan jumlah ini diperkirakan melonjak menjadi 853 juta pada tahun 2050. Lebih dari 40% penderita (kurang lebih 252 juta orang) bahkan tidak menyadari kondisinya dan pengeluaran global terkait diabetes pada 2024 menembus USD1triliun, naik sekitar 338% dalam 17 tahun terakhir.

Menurut Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), angka-angka tersebut menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, mengingat peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL). Tak hanya diabetes, prevalensi obesitas di Indonesia juga meningkat dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir.

Diabetes mellitus erat kaitannya dengan obesitas atau kegemukan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka obesitas melonjak dari 10,5% pada 2007 menjadi 23,4% pada 2023. Salah satu penyumbang utama konsumsi gula harian masyarakat adalah minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Sebagai bentuk pencegahan, CISDI mendorong pemerintah segera menerapkan kebijakan pelabelan gizi di bagian depan kemasan (Front-of-Package Labeling/FOPL) dan pemberlakuan cukai untuk MBDK. Tanpa intervensi yang tegas, angka diabetes di Indonesia berpotensi terus naik seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap pangan tidak sehat.

Penulis : Anna. L

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait