Lebih dari 600 Juta Serangan Siber Per Hari Dapat Menyerang Siapapun

Senin, 21 Oktober 2024

3795

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Ilustrasi: Ditjen Aptika

Teknologi - Semakin canggihnya teknologi dapat mengancam siapapun yang memiliki data kerahasiaan. Bahkan lebih dari 600 juta serangan siber terjadi tiap harinya dan mengincar individu, perusahaan, ataupun pemerintahan.

Hal tersebut berdasarkan hasil temuan Microsoft dalam laporan Digital Defense Report 2024.

Di mana, dari sebuah laporan yang setebal 110 halaman disebutkan kalau para pelaku serangan siber kini semakin canggih, baik itu yang berasal dari negara maupun yang murni kriminal.

Lebih lanjut, para siber menggunakan teknologi kekinian seperti AI generatif untuk meningkatkan efektifitas serangannya. Hal ini membuat serangan siber semakin kompleks dan semakin sulit untuk ditanggulangi.

Tak hanya itu, ada temuan lain yang lebih mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya kolaborasi antara sindikat dedemit maya dengan sindikat hacker yang dibekingi pemerintahan negara tertentu.

Kolaborasi ini menggabungkan bermacam teknik dan software yang dipakai untuk melakukan serangan, dan mengaburkan batasan antara serangan siber kriminal yang bertujuan mencari keuntungan finansial ataupun serangan siber dari pemerintahan negara tertentu, yang salah satunya bertujuan untuk mencuri informasi rahasia.
Di sisi lain, dilansir dari Techspot, aktor serangan siber dari negara tertentu pun memperluas cakupan serangan sibernya.

"Mereka mulai merambah target-target militer untuk dicuri informasi rahasianya," ungkap dari pihak Techspot, Senin (21/10/2024).

Sejauh ini, Rusia yang disebut menggunakan jasa oursourcing untuk melakukan serangan sibernya. Mereka menggunakan jasa sindikat hacker untuk melakukan aksinya, terutama yang mengincar Ukraina.

Salah satu contohnya adalah aksi sindikat hacker yang meretas setidaknya 50 perangkat militer Ukraina menggunakan malware komoditas.

Sementara hacker dari Iran disebut punya pendekatan berbeda, yaitu menggabungkan serangan ransomware dengan operasi untuk mempengaruhi.

Mereka mencuri data dari situs kencan Israel, dan menawarkan untuk menghapus profil-profil tertentu dengan sejumlah biaya yang harus dibayarkan.

Selain kedua negara di atas, Korea Utara juga muncul dalam laporan Microsoft itu, dan disebut sudah merambah arena ransomware.

Hacker dari Korut disebut membuat ransomware khusus benama FakePenny yang mengincar perusahaan pesawat angkasa dan kontraktor militer.

Microsoft menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghadapi ancaman ini. Mereka ingin meningkatkan kerja sama antara publik dan perusahaan swasta untuk meningkatkan keamanan siber di berbagai tingkatan masyarakat.

 

(Far/Tir)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait