Petani Kakao Lebak Kembali Bergairah Jual Hasil Panen Usai Harga Naik

Jumat, 15 Mei 2026

800

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Petani di Kabupaten Lebak, Banten menjemur biji coklat hasil panen untuk dijual ke pengepul dengan harga Rp 40 ribu per kilogram.

Kenaikan harga biji kakao di tingkat pengepul membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Lebak, Banten. Setelah sempat menahan hasil panen karena harga anjlok, para petani kini mulai kembali menjual biji kakao kering mereka menyusul kenaikan harga dari Rp20 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Bagi sebagian petani, kenaikan harga ini bukan sekadar angka di pasar komoditas, melainkan penentu keberlangsungan ekonomi keluarga. Didi Supriyadi (60), petani kakao asal Lebak, misalnya, akhirnya memutuskan menjual 300 kilogram biji kakao kering yang sebelumnya disimpan sejak panen Maret 2026. Dari penjualan tersebut, ia memperoleh pendapatan Rp12 juta.

Sebelumnya, Didi memilih menunda penjualan karena harga di tingkat pengepul dinilai terlalu rendah dan tidak sebanding dengan biaya perawatan kebun serta tenaga panen. Strategi menyimpan hasil panen menjadi pilihan bertahan sambil menunggu pasar membaik.

“Kami merasa senang harga biji kakao ditampung Rp40 ribu per kilogram, sehingga bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Udin (55), petani kakao asal Kecamatan Banjarsari. Ia menjual 200 kilogram biji kakao kering dengan nilai total Rp8 juta. Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan hingga disisihkan sebagai tabungan keluarga.

Meski harga saat ini belum kembali menyamai masa keemasan kakao pada 2024 yang sempat menembus Rp125 ribu per kilogram, kenaikan dua kali lipat dari harga sebelumnya cukup memulihkan optimisme petani. Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian sektor pertanian, stabilitas harga komoditas menjadi faktor vital bagi keberlanjutan usaha tani rakyat.

Namun, kondisi ini juga memperlihatkan rapuhnya posisi petani kecil dalam rantai perdagangan komoditas. Ketika harga turun drastis, petani terpaksa menahan hasil panen dalam waktu lama demi menghindari kerugian. Situasi tersebut menunjukkan masih lemahnya perlindungan harga dan akses pasar yang berpihak pada petani.

Sementara itu, Bambang, pengepul komoditas perkebunan di Pasar Rangkasbitung, mengatakan aktivitas penjualan biji kakao kini mulai kembali ramai. Setiap hari, petani datang membawa hasil panen mulai dari 20 kilogram hingga ratusan kilogram untuk dijual.

Menurutnya, seluruh biji kakao yang ditampung dari petani Lebak kemudian dipasok ke Semarang, Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa kakao dari Lebak masih memiliki rantai distribusi dan permintaan pasar yang cukup kuat.

Kenaikan harga kakao menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali gairah sektor perkebunan rakyat di Lebak. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat akses distribusi, serta meningkatkan kualitas produksi petani, kesejahteraan petani kakao masih akan sangat bergantung pada fluktuasi pasar.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait