Siap Mati Demi Hutan Adat: Tangis dan Perlawanan dari Maba Sangaji
Sabtu, 18 Oktober 2025
Pengunggah: Redaksi
Pengadilan Negeri Soasio, Kota Tidore Kepulauan telah menjatuhkan hukuman penjara selama lima bulan delapan hari kepada sebelas masyarakat adat Maba Sangaji. Mereka resmi dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana “perintangan atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan dari pemegang izin usaha (IUP) yang telah memenuhi syarat.”
Dalam ruang sidang, suara Nahrawi Salamudin, salah satu dari sebelas orang masyarakat adat Maba Sangaji bergetar, namun matanya tak gentar. Vonis yang dijatuhkan kepadanya dan sepuluh orang lainnya bukan sekadar hukuman. Itu adalah tamparan terhadap keberadaan mereka sebagai penjaga hutan dan air yang menjadi sumber kehidupan.
Di tanah Maba Sangaji, air kini berubah warna. Sungai yang dulu jernih, tempat anak-anak bermain dan warga mengambil air minum, kini keruh kemerahan. Lumpur bercampur limbah tambang mengalir tanpa henti.
“Air itu rusak, kebun-kebun kami hancur! Air itu rusak akan menghancurkan kami,” kata Nahrawi.
Bagi masyarakat adat, air bukan hanya sekadar sumber minum - namun nadi kehidupan. Dari air, tumbuh pohon sagu yang menjadi makanan pokok. Dari sungai pula, lahir hasil kebun dan kehidupan sehari-hari. Saat air rusak, maka rusak pula masa depan mereka.
Sebelas warga Maba Sangaji tidak sedang berperang, mereka sedang bertahan. Mereka menolak masuknya aktivitas tambang di wilayah adat yang sudah mereka jaga turun-temurun. Mereka meminta agar hutan, sungai, dan tanah adat tidak dijarah atas nama investasi. Hakim menyatakan mereka bersalah karena “terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana perintangan usaha pertambangan”. Vonis itu disambut isak tangis dan amarah tertahan.
Kasus Maba Sangaji menjadi cermin betapa rapuhnya posisi masyarakat adat di hadapan hukum formal dan kepentingan ekonomi. Di banyak wilayah lain di Indonesia, pejuang lingkungan dan warga adat menghadapi situasi serupa: dikriminalisasi karena mempertahankan ruang hidup.
Hutan adat yang mereka rawat ratusan tahun kini terancam hilang dalam hitungan bulan. Ironisnya, perjuangan menjaga hutan — yang sejatinya melindungi kehidupan — justru dianggap sebagai pelanggaran.
Bagi Maba Sangaji, perjuangan ini bukan hanya soal hak tanah, tapi tentang kelangsungan hidup generasi berikutnya. Tentang air yang tetap mengalir jernih, sagu yang bisa tumbuh, dan hutan yang tetap berdiri.
Di tengah derasnya arus tambang dan hukum yang kerap memihak modal, suara mereka mungkin kecil. Tapi dari tanah Maba Sangaji, suara itu menggema keras, “Kami tidak menolak pembangunan. Kami hanya ingin tetap hidup.”
Penulis: Radhwa Larasati Tetuko
Editor: Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Comunity - Sebagai komunitas yang fokus pada pengembangan diri anak muda, Gensmart Indonesia terus melakukan aks...
CommunitySenin, 15 Juli 2024
Komunitas - Jowo Community telah menyelenggarakan Pagelaran Budaya bersama Youth Ranger Indonesia (YRI) di Poltek...
CommunityMinggu, 17 Maret 2024
Community – Organisasi kepemudaan Pemoeda berhasil menggelar Pemoeda Fest 2024 di Wisma Kementerian Pemuda dan ...
CommunitySelasa, 26 November 2024
Jakarta, 13 Juli 2026 — Kawasan The Telkom Hub, Jakarta Selatan, menjadi episentrum harmoni nasional pada Min...
CommunitySelasa, 14 Juli 2026
As the weekend begins, children from Kampung Nelayan Kolong Jembatan Cilincing in North Jakarta arrive at Rumah...
CommunityRabu, 09 September 2026
Community – Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, generasi muda ditetapkan sebagai ujung tombak pembangunan, t...
CommunitySenin, 02 Desember 2024
Community - Pesatnya Workshopperkembangan dunia fashion menghadirkan kebaya modern sebagai simbol elegansi yang t...
CommunitySelasa, 18 Februari 2025
Rencana pengembangan program transmigrasi lokal di Kabupaten Pandeglang untuk sementara harus tertahan di tengah ...
CommunitySabtu, 09 Mei 2026
Community – YouthDozer, tim dari ajang The New L-Men of The Year 2025, berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan...
CommunitySelasa, 06 Mei 2025
Puan Bisa, sebuah komunitas berbasis pemberdayaan perempuan tahun ini kembali melaksanakan Puan Bisa Festival 202...
CommunityRabu, 22 Oktober 2025