Masyarakat Baduy dan Wacana Makan Bergizi Gratis

Kamis, 13 November 2025

1455

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber: instagram.com/jalurtravel.id

Wacana pemberian makan bergizi gratis (MBG) bagi masyarakat adat Baduy menjadi perhatian publik. Program yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak ini merupakan bagian dari amanat Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak dan ibu hamil di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah adat yang masih mempertahankan tradisi kuat seperti Baduy.

Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Banten, Asep Royani, menjelaskan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) di Baduy saat ini masih dalam tahap kajian. Pihaknya tengah mempelajari petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan, terutama terkait mekanisme distribusi dan penerimaan program oleh masyarakat adat yang selama ini dikenal sangat menjaga nilai kemandirian serta menolak bantuan dari luar.

“Kami masih mempelajari juknis apakah ada celah atau peluang MBG ini bisa diterapkan di Baduy atau seperti apa,” ujar Asep, Selasa (11/11/2025) yang dikutip dari detik.com

Menurut Asep, Badan Gizi Nasional (BGN) ingin memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya harus tepat sasaran, tetapi juga menghormati kearifan lokal masyarakat Baduy, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Ia juga lebih menekankan bahwa program ini masih berupa wacana yang akan dilanjutkan dengan survei dan dialog bersama tokoh adat sebelum dilaksanakan.

Hingga kini, Badan Gizi Nasional (BGN) Lebak belum melakukan komunikasi secara langsung dengan para tokoh adat Baduy. Dalam waktu dekat, mereka berencana turun ke lapangan untuk melihat situasi dan mendengar langsung tanggapan masyarakat.

“Kami masih belum melaksanakan survei, belum turun ke lapangan langsung jadi kami belum mendapat respons yang pasti dari masyarakat Baduy,” kata Asep.

Program makan bergizi gratis (MBG) tujuannya untuk memperbaiki status gizi masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil, guna menekan angka stunting yang masih tinggi di sejumlah wilayah. Namun, penerapannya di komunitas adat seperti Baduy menghadirkan tantangan tersendiri.

Suku Baduy dikenal sebagai suku yang menjunjung tinggi prinsip hidup sederhana, menolak teknologi modern, serta menjaga jarak dari intervensi pemerintah. Karena itu, setiap program yang akan masuk ke wilayah mereka perlu disesuaikan dengan tata nilai dan struktur sosial yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

Jika diterima, program makan bergizi gratis (MBG) berpotensi memberikan dampak positif untuk peningkatan kesehatan dan ketahanan gizi masyarakat Baduy, terutama bagi generasi muda yang menghadapi risiko kekurangan nutrisi. Tetapi, di sisi lain, program ini juga dapat menimbulkan dampak sosial dan kultural, seperti munculnya ketergantungan pada bantuan luar atau berubahnya pola hidup masyarakat adat yang selama ini sangat menjaga kemandirian pangan.

Dengan demikian, wacana makan bergizi gratis (MBG) di Baduy bukan sekadar soal distribusi makanan bergizi, melainkan ujian untuk pemerintah dalam menyeimbangkan antara pembangunan kesehatan nasional dan pelestarian budaya lokal. Bagi masyarakat Baduy sendiri, menerima atau menolak program ini bukan hanya keputusan praktis, tapi refleksi atas bagaimana mereka menegosiasikan perubahan tanpa kehilangan jati diri.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait