Pembangunan Tak Terbendung, Bali Alami Krisis Lingkungan dan Sosial

Senin, 11 November 2024

13720

Pengunggah: Ni Made Ayu Nindya Damayanti

gambar-utama
Foto: Denpasar, IMINews.id

Opini - Bali, pulau yang dikenal akan keindahan alam dan kearifan lokalnya, kini menghadapi krisis akibat pembangunan tak terkendali.

Seiring beralihnya fungsi lahan sawah menjadi area komersial, kemacetan yang semakin parah, dan masalah sampah yang berlarut-larut, masyarakat Bali merasa semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri.

Menurut data dari Dinas Pertanian Provinsi Bali, setiap tahun sekitar 700 hektar sawah dialihfungsikan menjadi resor, vila, klub, dan pusat komersial lainnya. Kawasan Canggu menjadi salah satu contoh nyata perubahan drastis ini.

Dulu, area ini dipenuhi sawah hijau yang ikonik; sekarang, beton mendominasi lanskapnya.

Nyoman Sukma Arida, Wakil Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, mempertanyakan keberlanjutan model pembangunan seperti ini.

"Apakah cukup lahan dan air yang tersedia? Setiap turis butuh makan, minum, dan seterusnya," ujarnya.

Made Kamajaya, tokoh masyarakat Canggu, turut menyampaikan keprihatinannya.

"Lingkungan kami berubah drastis. Hampir 90% pembangunan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan," katanya.

Tak hanya masalah lahan, kemacetan di Bali juga menjadi tantangan berat, terutama saat musim liburan. Kemacetan memuncak di tol Bali Mandara dengan lebih dari 73 ribu kendaraan melintas pada akhir tahun lalu.

Kondisi ini diperburuk oleh minimnya transportasi umum yang memadai, menyebabkan warga dan turis lebih memilih kendaraan pribadi.

Masalah sampah di Bali pun makin memburuk. TPA Suwung, salah satu tempat pembuangan sampah utama di Bali, baru-baru ini mengalami kebakaran akibat tumpukan sampah yang memicu percikan api.

I Kadek Agus Arya Wibawa, Wakil Wali Kota Denpasar, menyebut kebakaran ini sebagai sinyal bahwa Bali perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

"Pengelolaan sampah di hilir sudah melampaui batas," jelasnya.

Krisis yang terjadi kini bertentangan dengan konsep kearifan lokal Tri Hita Karana, yaitu harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam.

Bali, yang seharusnya menjadi contoh pariwisata berkelanjutan, malah menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian lingkungannya.

Tokoh masyarakat, pemerintah, dan aktivis lingkungan menyerukan model pembangunan yang selaras dengan alam dan manusia, sebagaimana tercermin dalam prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs).

"Kita harus kembali ke konsep pembangunan yang memanusiakan manusia dan menjaga kelestarian lingkungan," ujar seorang pegiat lingkungan.

Bali adalah warisan bangsa yang indah dan penuh nilai budaya. Pemerintah, masyarakat, dan investor diharapkan dapat menjaga Bali bukan sekadar untuk keuntungan semata, tetapi untuk keberlanjutan jangka panjang yang memberi manfaat bagi semua pihak.

 

Editor: Faruq Bytheway

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait