Anak Petani Asal Sragen Dapat Beasiswa Kedokteran hingga 1 Miliar

Kamis, 10 Juli 2025

2340

Pengunggah: Yohanita Cahyaningtyas

gambar-utama
Foto: Edward bersama keluarga (warta jogja).

Education — Tidak semua mimpi harus berangkat dari kota besar. Dari pedesaan di Tanjungsari, Sragen, Edward Hikmawan membuktikan bahwa tekad dan doa bisa mengantar anak petani menuju bangku kuliah kedokteran dengan beasiswa senilai Rp1 miliar.

“Menjadi dokter bukan soal gengsi, ini soal panggilan,” kata Edward, saat diwawancarai melalui laman resmi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Kamis (10/7/2025).

Diketahui, Edward diterima sebagai mahasiswa Kedokteran UAD lewat jalur beasiswa penuh yang membebaskannya dari semua biaya, termasuk biaya profesi, ditambah uang saku.

Latar belakang Edward cukup sederhana. Ayahnya, Supriyanto, adalah petani. Ibunya, Fitri Hidayati, ibu rumah tangga. Tapi dari rumah kecil mereka, semangat besar ditanamkan. Edward tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kerja keras.

“Mereka tidak pernah membatasi mimpi saya. Justru selalu mendorong agar saya belajar setinggi-tingginya,” tuturnya.

Edward merupakan Lulus dari SMA Trensains, sekolah berbasis sains dengan pendekatan nilai-nilai Islam. Edward terbiasa dengan kedisiplinan, cara berpikir ilmiah, dan kepedulian sosial. Ia juga aktif di organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), yang membentuk kepekaan sosial dan kepemimpinannya.

“Saya belajar bahwa menjadi dokter tidak cukup dengan ilmu medis. Empati dan tanggung jawab sosial juga harus kuat,” katanya.

Ketatnya seleksi beasiswa kedokteran UAD tidak membuat Edward mundur. Ia melewati ujian akademik, psikotes, dan wawancara dengan semangat dan impian yang tinggi.

Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Sunardi, menjelaskan bahwa beasiswa kedokteran ini mencakup pembebasan biaya kuliah hingga tahap profesi dan juga uang saku.

“Kami mencari calon dokter yang tidak hanya pintar, tapi juga punya jiwa pengabdian,” tegasnya.

Edward sendiri tidak ingin berhenti pada pencapaian pribadi. Ia ingin kembali ke daerah-daerah yang masih minim tenaga medis dan berkontribusi di rumah sakit serta klinik milik Muhammadiyah.

“Menjadi dokter adalah jalan dakwah. Lewat layanan kesehatan, saya ingin hadir bagi mereka yang selama ini terpinggirkan,” ujarnya.

Tahun ini, Program Studi Kedokteran UAD mencatat lonjakan pendaftar, dari 640 menjadi 894 orang.

Dr. Caraka Putra Bhakti, Kepala Bidang Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan Mahasiswa, menyebut peningkatan ini sebagai cerminan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan kedokteran yang berakar pada karakter dan pengabdian.

Kepada generasi muda, Edward berpesan, “Jangan takut bermimpi besar walau berasal dari keluarga sederhana. Terus belajar, berdoa, dan jangan mudah menyerah. Allah selalu bersama mereka yang bersungguh-sungguh.”

 

(Yoh/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait