Lonjakan Penumpang Kereta Panoramic Cerminkan Tren Baru Wisata Berbasis Transportasi

Sabtu, 20 Juni 2026

35

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Kereta Panoramic

Perjalanan kini tidak lagi sekadar menjadi cara berpindah dari satu kota ke kota lain. Bagi sebagian masyarakat, perjalanan justru telah menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Fenomena inilah yang tampaknya tercermin dari meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan Kereta Panoramic milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, KAI mencatat sebanyak 79.933 pelanggan menggunakan Kereta Panoramic. Jumlah tersebut meningkat 62,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 49.244 penumpang. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memandang moda transportasi bukan hanya sebagai sarana mobilitas, melainkan sebagai bagian dari destinasi wisata yang menawarkan pengalaman tersendiri.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut peningkatan tersebut sebagai indikasi semakin besarnya ketertarikan pelanggan terhadap perjalanan yang mengedepankan kenyamanan sekaligus pengalaman visual. Kereta Panoramic memang dirancang berbeda dari layanan kereta pada umumnya. Dengan jendela berukuran besar, atap kaca otomatis (automatic sunroof), serta kapasitas terbatas sebanyak 38 kursi, penumpang dapat menikmati panorama alam sepanjang perjalanan dengan lebih leluasa.

Pertumbuhan pengguna Kereta Panoramic juga tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya aktivitas wisata domestik. Data Kementerian Pariwisata mencatat bahwa sepanjang Januari hingga November 2025 terjadi 1,09 miliar perjalanan wisatawan nusantara atau meningkat hampir 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin aktif melakukan perjalanan wisata, terutama ke destinasi yang mudah dijangkau menggunakan transportasi publik.

Keunggulan Kereta Panoramic terletak pada jalur operasionalnya yang melintasi wilayah selatan Pulau Jawa. Rute seperti Bandung–Surabaya, Gambir–Garut, hingga Gambir–Banjar menawarkan pemandangan pegunungan, lembah, persawahan, sungai, dan kawasan pedesaan yang menjadi daya tarik utama selama perjalanan. Lanskap tersebut menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan pada moda transportasi lain, khususnya perjalanan udara yang cenderung hanya berfokus pada efisiensi waktu.

Namun, di balik tingginya antusiasme masyarakat, terdapat sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian. Pertama, pertumbuhan penumpang Kereta Panoramic masih berasal dari segmen premium. Harga tiket yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelas reguler membuat layanan ini belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, peningkatan jumlah penumpang belum tentu mencerminkan perubahan preferensi seluruh pengguna kereta api di Indonesia.

Kedua, keberhasilan Kereta Panoramic seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan, tetapi juga dari kualitas pelayanan yang mampu dipertahankan secara konsisten. Pengalaman wisata berbasis transportasi sangat bergantung pada ketepatan waktu perjalanan, kebersihan sarana, kualitas layanan petugas, hingga kondisi jalur yang aman dan nyaman. Jika salah satu aspek tersebut mengalami penurunan, daya tarik layanan premium ini dapat ikut terpengaruh.

Di sisi lain, keberhasilan Kereta Panoramic membuka peluang bagi pengembangan konsep rail tourism di Indonesia. Negara dengan bentang alam yang beragam memiliki potensi besar menjadikan perjalanan kereta sebagai bagian dari atraksi wisata. Bukan hanya menikmati tujuan akhir, tetapi juga menikmati proses perjalanan itu sendiri. Model seperti ini telah berkembang di sejumlah negara dan mampu memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata sekaligus transportasi.

Ke depan, tantangan KAI bukan hanya mempertahankan pertumbuhan jumlah penumpang, tetapi juga memperluas akses terhadap pengalaman perjalanan berkualitas. Inovasi layanan, pengembangan rute dengan panorama menarik, serta integrasi dengan destinasi wisata lokal dapat menjadi strategi untuk memperkuat daya saing transportasi berbasis rel.

Lonjakan pengguna Kereta Panoramic pada akhirnya menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai mencari pengalaman perjalanan yang lebih bermakna. Transportasi tidak lagi sekadar alat untuk sampai ke tujuan, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang mampu menghadirkan kenyamanan, keindahan alam, dan kenangan selama perjalanan. Apabila tren ini terus berkembang dan didukung peningkatan kualitas layanan, Kereta Panoramic berpotensi menjadi ikon baru wisata berbasis transportasi di Indonesia.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait