Penataan Puncak Cianjur Sisakan Tantangan Baru, Starling Mulai Padati Kawasan

Selasa, 14 Juli 2026

65

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Pedagang keliling padati kawasan Puncak

Upaya penataan kawasan Puncak Cianjur ternyata belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan di lapangan. Setelah pembongkaran kios di kawasan rest area Segar Alam dan sepanjang Jalur Puncak, kini pedagang kopi keliling atau starling mulai kembali memenuhi kawasan tersebut sebagai cara bertahan mencari nafkah.
Pantauan di lokasi menunjukkan deretan sepeda motor yang telah dimodifikasi menjadi warung kopi berjalan berjejer di sejumlah titik. Kehadiran mereka tak hanya menarik perhatian wisatawan dan pengendara yang berhenti sejenak untuk menikmati kopi sambil menikmati panorama Puncak, tetapi juga memunculkan kembali persoalan ketertiban di jalur wisata yang dikenal padat lalu lintas itu.

Bagi para pedagang, kembali berjualan bukan sekadar pilihan, melainkan tuntutan ekonomi. Salah satunya Dodi, yang mengaku kehilangan sumber penghasilan setelah kios tempatnya berdagang dibongkar.

"Belum ada lokasi baru untuk berjualan. Karena kebutuhan keluarga tetap berjalan, saya terpaksa memodifikasi motor dan kembali berjualan di sini," ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada langkah penertiban dan pemberian dana kompensasi, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang berupa lokasi relokasi yang layak bagi para pedagang.

"Kami sudah puluhan tahun berjualan di kawasan Puncak. Yang dibutuhkan bukan hanya pembongkaran, tetapi juga tempat baru agar kami tetap bisa mencari nafkah," katanya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Cianjur menilai aktivitas tersebut berpotensi mengganggu ketertiban sekaligus membahayakan keselamatan pengguna jalan. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Cianjur, Djoko Purnomo, mengatakan sebagian pedagang memang telah mematuhi aturan, namun masih ada yang kembali berjualan karena tingginya permintaan dari pengunjung.

"Banyak yang kembali berjualan karena pembelinya masih ada. Padahal kami sudah mengimbau agar tidak berjualan dan tidak berhenti sembarangan di kawasan tersebut karena berbahaya," ujarnya.

Satpol PP pun memastikan akan kembali melakukan penertiban serta memasang spanduk larangan berjualan di titik-titik yang dianggap rawan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penataan kawasan wisata tidak cukup hanya berfokus pada pembongkaran bangunan liar. Tanpa skema relokasi dan pemberdayaan ekonomi yang jelas, potensi munculnya aktivitas informal di ruang publik akan terus berulang. Di sisi lain, tingginya minat wisatawan untuk berhenti di kawasan Puncak juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara keselamatan lalu lintas, estetika kawasan, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait