5 Rebusan Daun yang Dikaji untuk Membantu Mengontrol Gula Darah, Apa Kata Penelitian?
Selasa, 14 Juli 2026
Pengunggah: Redaksi
Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia, berbagai cara alami untuk membantu mengendalikan kadar gula darah kembali menjadi perhatian. Salah satunya adalah konsumsi rebusan daun yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, mulai dari daun jambu biji, daun salam, daun pepaya, daun sirsak, hingga daun kelor.
Meski telah diwariskan secara turun-temurun, efektivitas rebusan daun tersebut kini mulai dikaji melalui berbagai penelitian ilmiah. Sejumlah studi menunjukkan adanya kandungan senyawa aktif, seperti polifenol, flavonoid, saponin, tanin, hingga asam klorogenat yang berpotensi membantu mengontrol kadar glukosa darah dengan mekanisme yang berbeda-beda.
Daun jambu biji (Psidium guajava) menjadi salah satu yang memiliki bukti penelitian pada manusia. Studi yang dipublikasikan dalam Nutrition & Metabolism (2010) menemukan bahwa konsumsi teh daun jambu biji selama 12 minggu pada kelompok prediabetes dan diabetes tipe 2 ringan mampu menurunkan kadar gula darah puasa, memperbaiki HbA1c, meningkatkan sensitivitas insulin, sekaligus membantu menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida.
Sementara itu, daun salam (Syzygium polyanthum) juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Penelitian yang dimuat dalam Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition (2009) melaporkan bahwa konsumsi ekstrak daun salam sebanyak 1–3 gram per hari selama satu bulan berhubungan dengan penurunan faktor risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular. Efek tersebut diduga berasal dari kandungan flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang dapat mendukung kerja insulin.
Potensi serupa juga ditemukan pada daun pepaya (Carica papaya). Penelitian terbaru dalam jurnal Nutrients (2024) menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya mampu menurunkan kadar gula darah puasa pada hewan percobaan yang mengalami obesitas dan prediabetes. Peneliti juga menemukan adanya indikasi perbaikan fungsi sel beta pankreas, yaitu sel yang bertanggung jawab memproduksi hormon insulin.
Di sisi lain, daun sirsak (Annona muricata) juga menarik perhatian para peneliti. Berbagai studi pada hewan menunjukkan bahwa kandungan asetogenin, alkaloid, dan flavonoid di dalamnya dapat membantu menurunkan kadar gula darah, HbA1c, serta memperbaiki resistensi insulin. Namun, hingga kini bukti ilmiah pada manusia masih sangat terbatas. Selain itu, konsumsi daun sirsak dalam jumlah besar dan jangka panjang masih menjadi perhatian karena diduga berpotensi menimbulkan efek neurotoksik sehingga penggunaannya perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Sementara itu, daun kelor (Moringa oleifera) dikenal kaya akan senyawa bioaktif seperti asam klorogenat, isothiocyanate, kaempferol, dan quercetin. Kajian yang diterbitkan dalam Complementary Therapies in Medicine (2020), yang menganalisis tujuh penelitian pada manusia dan 23 penelitian pada hewan, menyimpulkan bahwa daun kelor memiliki potensi membantu menurunkan kadar gula darah. Kendati demikian, para peneliti menegaskan masih diperlukan uji klinis berskala lebih besar untuk memastikan manfaatnya pada pasien diabetes.
Meski hasil berbagai penelitian tersebut cukup menjanjikan, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menganggap rebusan daun sebagai obat diabetes. Hingga saat ini, sebagian besar bukti ilmiah masih berasal dari penelitian pada hewan, sementara penelitian pada manusia masih terbatas.
American Diabetes Association (ADA) juga menegaskan bahwa pengelolaan diabetes tetap bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pola makan seimbang, aktivitas fisik secara rutin minimal 150 menit setiap pekan dengan intensitas sedang, serta penggunaan obat sesuai anjuran dokter.
Artinya, rebusan daun dapat diposisikan sebagai pendamping gaya hidup sehat, bukan pengganti terapi medis. Terlebih bagi penderita diabetes yang mengonsumsi metformin, sulfonilurea, atau insulin, penggunaan herbal tanpa pengawasan berpotensi meningkatkan risiko hipoglikemia atau kadar gula darah turun terlalu rendah.
Di tengah maraknya informasi mengenai pengobatan alami, pendekatan yang berbasis bukti ilmiah menjadi kunci. Herbal memang menyimpan potensi, tetapi manfaatnya harus dipahami secara proporsional agar tidak menimbulkan harapan berlebihan maupun menghambat pengobatan yang telah terbukti efektif.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Sepasang induk dan anak orang utan yang sempat ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kawasan tambang batu bara K...
NewsSabtu, 30 Mei 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena El Niño pada 2026 tidak akan menjad...
NewsKamis, 09 April 2026
News - Seorang pelajar berinisial E (18) alami kecelakaan hingga tewas diduga akibat dikejar-kejar segerombolan g...
NewsSenin, 03 Juni 2024
News - Perusahaan ritel minimarket seperti Alfamart dibuat geram dengan maraknya Juru Parkir yang masih berkeliar...
NewsKamis, 16 Mei 2024
News - Militer Israel melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Jenin, Tepi Barat, yang diduduki, hal ini men...
NewsKamis, 23 Januari 2025
Menjelang arus mudik Lebaran, berbagai upaya dilakukan untuk mengurai kepadatan perjalanan darat dan laut. Salah ...
NewsJumat, 13 Maret 2026
News – Potongan video dakwah Gus Miftah viral kembali dan memicu amarah publik.Dalam video tersebut, mantan utu...
NewsMinggu, 08 Desember 2024
News - Sobat Youtz, kemarin tepatnya pada hari Senin, 14 Oktober 2024, calon Presiden terpilih, Prabowo Subianto ...
NewsJumat, 18 Oktober 2024
News - Sebagai wadah dalam menumbuh-kembangkan potensi anak muda di seluruh Indonesia, Youth Ranger Indonesia (Y...
NewsSenin, 30 Oktober 2023
Persoalan sampah di Jakarta kerap dipandang sebagai pekerjaan rumah pemerintah. Namun di tengah tantangan pengelo...
NewsSelasa, 09 Juni 2026