Peringkat Terbaru BWF, Fajar/Fikri Tunjukkan Daya Saing di Level 10 Besar

Kamis, 16 April 2026

900

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Ganda Putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjadi mimpi buruk dua pasangan asal China pada ranking BWF terbaru setelah gelaran Kejuaraan Asia 2026

Pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama dunia. Dalam pembaruan peringkat Badminton World Federation per Selasa (14/4/2026), mereka naik dua tingkat ke posisi ketiga—sebuah lonjakan yang bukan hanya soal angka, tetapi juga sinyal kuat bahwa persaingan di level elite semakin terbuka.
Kenaikan ini tak lepas dari performa solid mereka di Kejuaraan Asia 2026. Meski langkahnya terhenti di semifinal usai kalah dari pasangan Korea, Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju, capaian tersebut cukup untuk menggeser dominasi pasangan China, Liang Wei Keng/Wang Chang, dari posisi tiga besar.

Ironisnya, Liang/Wang justru terpeleset di kandang sendiri. Tampil di hadapan publiknya, mereka tersingkir di perempat final oleh kompatriotnya, He Ji Ting/Ren Xiang Yu. Kekalahan dua gim langsung itu memperlihatkan bahwa status unggulan tidak lagi menjamin dominasi, bahkan di rumah sendiri. Penurunan ke peringkat lima menjadi konsekuensi nyata dari ketatnya persaingan.

Di sisi lain, dominasi kini justru terlihat pada pasangan Korea, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, yang semakin kokoh di puncak ranking setelah menjuarai Kejuaraan Asia 2026. Dengan tiga gelar besar musim ini, mereka menciptakan jarak yang cukup lebar dari para pesaing—membuat perebutan posisi kedua hingga kelima menjadi medan pertarungan yang lebih dinamis dibanding perebutan takhta.

Dalam lanskap seperti ini, posisi Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjadi menarik. Mereka memang belum mencapai puncak, tetapi konsistensi di turnamen besar menunjukkan kematangan permainan. Selisih poin yang masih cukup jauh dari peringkat dua menandakan bahwa pekerjaan rumah belum selesai—terutama dalam menjaga stabilitas performa hingga partai puncak.

Fenomena lain yang patut dicermati adalah merosotnya pasangan China lain, Chen Bo Yang/Liu Yi, yang terlempar dari 10 besar. Kekalahan mereka dari Fajar/Fikri di babak 16 besar menjadi salah satu faktor penting. Kondisi ini mempertegas bahwa kekuatan China di sektor ganda putra tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu, setidaknya dalam konteks konsistensi di turnamen besar.

Sebaliknya, kebangkitan justru datang dari pasangan Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, yang kembali ke 10 besar meski hasil di Kejuaraan Eropa tidak terlalu impresif. Ini menunjukkan bahwa ranking bukan hanya ditentukan oleh satu turnamen, melainkan akumulasi performa dalam jangka panjang.

Dari kubu Indonesia, angin segar juga datang dari pasangan muda Ali Faathir Rayhan/Devin Arthya Wahyudi. Debut mereka di Kejuaraan Asia 2026 langsung berbuah perempat final dan mendongkrak peringkat hingga 17 tingkat. Lonjakan ini memberi sinyal bahwa regenerasi mulai berjalan, meski masih membutuhkan pembuktian berkelanjutan.

Pada akhirnya, pembaruan ranking ini menegaskan satu hal: peta kekuatan ganda putra dunia sedang mengalami pergeseran. Tidak ada lagi dominasi absolut. Dalam situasi seperti ini, konsistensi menjadi mata uang utama.

Bagi Fajar/Fikri, posisi tiga besar adalah pencapaian penting, tetapi sekaligus titik krusial. Mereka kini bukan lagi sekadar penantang—melainkan bagian dari elite yang harus siap menghadapi tekanan lebih besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka bisa naik, tetapi apakah mereka mampu bertahan dan melangkah lebih jauh.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait