Jelang COP 30, Indonesia Siap Perkuat Diplomasi Iklim untuk Hadapi Krisis Global
Senin, 04 Agustus 2025
Pengunggah: Ni Made Ayu Nindya Damayanti
News - Jelang Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belem, Brasil, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menggelar workshop jurnalistik dengan tema "Amplifying COP 30 to Indonesia", untuk memperkuat dampak peliputan iklim dari Indonesia ke dunia.
Tujuannya selain Indonesia dapat hadir, juga bisa bersuara mengadvokasi ketimpangan, menguatkan posisi negosiasi, dan membawa isu lingkungan yang substansial dan berkeadilan.
Wukir Amintari Rukmi, Koordinator Pokja Perundingan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, menekankan bahwa Indonesia mendukung penuh prinsip multilateral Paris Agreement, dan siap mendorong operasionalisasi Baku-Belem Road Map, kerangka kerja pendanaan iklim yang lebih adil dan inklusif.
“COP30 jadi kompas kita untuk meningkatkan ambisi mitigasi, dorong transisi energi yang adil, dan menyusun indikator konkret Tujuan Global Adaptasi,” ujar Wukir.
Tak hanya itu, Wukir juga menyoroti pentingnya pengarusutamaan gender dan semangat Mutirão Global, gerakan kolektif yang menggandeng pemerintah, masyarakat sipil, hingga komunitas adat.
Kuki Soedjackmoen dari IRID (Indonesia Research Institute for Decarbonization) menyoroti pentingnya pendekatan ilmiah dalam memahami jenis gas rumah kaca (GRK). Ia mengingatkan bahwa gas seperti metana dan dinitrogen oksida punya potensi pemanasan jauh lebih besar dari karbon dioksida.
“Ini bukan soal angka di laporan. Ini soal panas yang kita rasakan sekarang. Penanganannya harus beda, strateginya harus tepat,” tegas Kuki.
Kuki bahkan mengenalkan teknologi cairan penyerap karbon yang bisa diadopsi BUMD dan instansi negara, plus mendorong penyusunan kerangka penyetaraan emisi berbasis sains.
Syahrul Fitra dari Greenpeace Indonesia mengkritisi inkonsistensi data deforestasi pemerintah. Menurutnya, membabat hutan demi proyek besar tak bisa dibenarkan dalam kerangka perubahan iklim.
“Kita harus jujur. Deforestasi itu hasil dari perencanaan yang keliru, bukan musibah alam. Kalau kita serius iklim, hentikan itu semua sebelum 2030,” kata Syahrul. Ia menyoroti proyek food estate dan ekspansi industri di Papua dan Kalimantan yang rawan bertabrakan dengan komitmen iklim global.
Cindy Julianti dari Working Group ICCA Indonesia menegaskan keterkaitan antara krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Ia mendorong agar solusi berbasis alam, seperti pengelolaan konservasi oleh masyarakat lokal dan insentif ekosistem masuk dalam kebijakan nasional.
“Bicara iklim itu nggak bisa tanpa bicara keanekaragaman hayati. Alam bukan sekadar objek, tapi subjek utama dalam pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Joni Aswira Putra, Ketua SIEJ, menyerukan peran aktif jurnalis untuk mengawal proses COP30 secara kritis dan inklusif. Menurutnya, media wajib menyuarakan suara komunitas adat dan masyarakat sipil, agar diplomasi iklim tak dikuasai elite semata.
“Media punya kekuatan membentuk narasi. Jangan sampai COP30 jadi seremoni tahunan yang kosong makna,” kata Joni.
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden resmi mundur dari pencalonan Presiden AS di bulan November menda...
NewsSenin, 22 Juli 2024
News – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, akhirnya angkat suara dengan langkah hukum terkait tuduhan ijazah palsu y...
NewsRabu, 30 April 2025
Wajah sejumlah ruang publik di Tangerang Selatan perlahan berubah. Kawasan yang sebelumnya identik dengan lahan k...
NewsRabu, 27 Mei 2026
News - Tiga Youtuber ternama yang tergabung dalam channel Youtube Akeloy Production diringkus polisi usai kontenn...
NewsRabu, 08 Mei 2024
Advokat Perempuan Indonesia (API) menyerukan agar DPR RI segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Kitab Hukum A...
NewsKamis, 20 November 2025
News - Pasangan Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-cawapres) Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar re...
NewsKamis, 19 Oktober 2023
News - investasi bodong kembali memakan korban setelah berhasil menipu kalangan pejabat, staf sampai warga di Kot...
NewsMinggu, 10 September 2023
News - Harapan Suratmo (56) dan Sutijah (59), pasangan suami-istri asal Desa Pelutan, Pemalang, untuk melihat dua...
NewsSabtu, 04 Januari 2025
Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program...
NewsRabu, 11 Februari 2026
News — Pemerintah Provinsi Aceh secara resmi mengirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaika...
NewsSenin, 30 Juni 2025