Wahyudi Pratama Hidupkan Perjuangan Palestina Melalui Novel

Rabu, 28 Agustus 2024

6895

Pengunggah: Wilna Liana Az Zahra

gambar-utama
Foto: Yudi Pratama Dok/Pri).

Inspirational - Dalam dunia literasi, tulisan memiliki kekuatan untuk membangkitkan emosi, membentuk opini, dan yang paling penting mengabadikan perjuangan. 

Salah satu penulis yang telah berhasil memanfaatkan kekuatan ini adalah Yudi Pratama, yang sukses menghasilkan lebih dari selusin buku, termasuk karya terbarunya yang berjudul "Matahari di Ujung Rafah". 

Dalam episode ke-25 Youtz Talks, Yudi berbagi tentang proses kreatifnya dalam menulis novel yang tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga sebagai alat untuk mendukung perjuangan kemanusiaan di Palestina. 

 "Buku ini tidak serta merta jadi begitu saja, tapi tujuannya meskipun kita tidak ikut berperang langsung, kita bisa melalui pena, melalui kata-kata, kita berperang narasi," ujar Yudi dengan penuh semangat​.

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Kata-kata

Yudi menjelaskan bahwa menulis, terutama tentang isu-isu sensitif seperti Palestina, membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. 

"Nulis sesuatu kan memang kita harus ngerasain dulu ya bagaimana kejadian di sana dan kemudian kita merangkai itu dalam sebuah diksi yang bisa membawa perasaan pembaca," katanya. 

Baginya, penting untuk merasakan emosi dan memahami konteks sebelum menuangkannya ke dalam tulisan, sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa terasa lebih hidup dan menyentuh hati para pembaca​. Proses penulisan novel ini bukanlah hal yang mudah. 

Yudi mengungkapkan bagaimana ia harus merangkai kata-kata sambil menangis karena terharu dengan cerita-cerita nyata dari Gaza. 

Salah satu adegan yang paling menyentuh baginya adalah kisah seorang prajurit dari Gaza yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan seorang jurnalis. 

"Itu benar-benar dalam banget sih... sampai aku harus merangkai kata-katanya sambil nangis-nangis," ujarnya mengenang proses kreatif yang ia lalui. 

Kekuatan Kolaborasi dan Konsistensi

Selain membahas buku terbarunya, Yudi juga berbagi tentang perjalanan menulisnya yang dimulai sejak usia muda. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kolaborasi dalam menulis. 

"Setiap orang bisa jadi penulis, tergantung mereka startnya seperti apa dan konsistensinya seperti apa," kata Yudi. 

Ia percaya bahwa dengan niat yang tulus dan kerja keras, setiap orang dapat menciptakan karya yang bermakna.

Menulis Sebagai Bentuk Perlawanan

Menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang bagaimana karya tersebut dapat digunakan sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan. 

Melalui bukunya, Yudi berharap dapat menyadarkan lebih banyak orang tentang pentingnya mendukung perjuangan Palestina, baik melalui donasi maupun dengan terus membahas isu ini di berbagai platform.  

"Melalui buku ini, kita cuman bisa merasakan dari jutaan KM... tapi kita belum tentu bisa ketika di posisi itu akan bisa bertahan seperti mereka," tambahnya

 

(Wil/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait